ASAL USUL USAPI BAAN FAUN

Nama Usapi Baan Faun di ambil dari nama pohon Kusambi. Kusambi adalah pohon yg buahnya mirip klengkeng, ada yg manis tapi kebanyakan rasa asam. Pada musim buah kusambi, anak timor tempo dulu mencari buah kusambi yg manis. Mereka membawa garam, kadang juga cabe untuk buat rujak. Biji kusambi yg sudah kering biasanya di pungut untuk penerangan, lampu.

Bisa kusambi di tumbuk sampai halus, kemudian di tempelkan pada batang kayu kecil (Talu) lalu di bakar sebagai lilin penerang. Lampu talu sebesar jempol tangan orang dewasa, sepanjang 45 cm, bisa bertahan menyala selama 5 jam. Nama Usapi Baan Faun di ambil dari nama pohon kusambi tua yg sangat rindang, berakar sangat banyak yg tumbuh di luar pagar kampung Baanfaun. Nama itu lebih awal terkenal, jauh sebelum kampung baan faun ada.

Sesungguhnya pohon rindang itu menjadi tempat singgah orang orang yg sedang dalam perjalanan jauh. Orang orang berhenti di bawah pohon kusambi rindang itu untuk istirahat, makan atau minum, atau menunggu teman. Mereka sepakat untuk saling menunggu, bertemu, berhenti dalam perjalanan dari kota ke kampung atau sebaliknya di usapi baan faun.

Sekitar tahun 1960, beberapa keluarga adik beradik berkebun beberapa meter dari pohon usapi baan faun. Mereka adalah keluarga Canai Ninu, Antoin Ninu, Hati Ninu, Leof Ninu, Kusi Ninu, keluarga Petrus Ninu (pah foen Kono). Mereka membuat pagar mengikuti jalan raya berbatu. Antoin, Canai, Leof, di sisi jalan sejaar kampung baanfaun, Hati dan Kono di sisi sebelahnya. sedangkan Kusi berkebun di belakang kebun Canai dan Leof Ninu.

Pada tahun 1972, Orang-orang yg tinggal di Oepaha dan sekitarnya pindah dan tinggal di kampung lama Usapi baanfaun. Mereka adalah, Niko Boy Mese dan anaknya, beserta saudarinya Maria Mese beserta anak-anaknya, Theresia Mandonsa, Thomas Mese, Maria Mandonsa (Leke Lopis), Petrus Silkono, Anton Olla, Kono Farnesi, Antoin Pule, Petrus Mandonsa, Boi Siki, Yakobus Mandonsa, Siuk Sasi, Musu Ninu, dan keluarga Pit, Tun Nitcae. dua tahun kemudian, bpk. Bois Ninu dan Mamuit Fallo nyusul saudara2 mereka dan tinggal di luar pagar kampung Usapi baan faun.

Kampung Usapi baanfaun dulu, di pagar keliling untuk menghindari ternak; sapi, kuda, kerbau, kambing, babi. Pintu bagian barat letaknya di batas tanah keluarga besar Nelis Tanu ( sekarang di tempati Mikhael Salab), juga batas tanah Hati Ninu, sefangkan pintu bagian timur letaknya di batas tanah Leof Ninu, juga Kono Ninu. Sekitar tahun 1978/1979, penduduk kampung Baan Faun di relokasi mengikuti jalan besar antar kampung sebagaimana letak usapi baanfaun sekarang. Pintu Barat tetap, sedangkan pintu Timur letaknya satu garis lurus dengan rumah bpk. Bas Heli, juga Domi Silab (sekarang). Perluasan kampung ke arah timur sampai rumah Kakek Kono Farnesi sekitar tahun 1989, bersamaan dengan rumah rumah di Mnot Aob. Sedangkan perluasan ke arah Barat di mulai dari Mikhael Salab, Nelis Tanu, dan seterusnya juga sekitar tahun 1987.

Perluasan kampung selanjutnya adalah Buin. Sedangkan keluarga Romo Aloy. Kosat sudah lebih dahulu tinggal di kebun dekat sumber air Boen Ana (kaki Bola Bau) sekitar tahun 1965. Demikian sejarah singkat nama dan penduduk USAPI BAAN FAUN tempo Dulu. kebenaran tulisan ini mencapai 80 %, penulis adalah salah satu pelaku sejarah usapi baan faun yg pindah dari kampung Oepaha.

PENDUDUK USAPI BAAN FAUN

1. PENDUDUK

Pada mulanya kampung Usapibaanfaun di huni oleh beberapa keluarga NINU bersaudara yakni; Hati Ninu, Kono Ninu, Tcanai Ninu, Leof Ninu, Kusi Ninu. Mereka berkebun dan menetap di Usapi Baanfaun di tepi jalan besar, kalan penghubung antar kampung sekitar tahun 1966.

Sekitar tahun 1972, keluarga besar yg tinggal di Oepaha, pindah ke usapi baanfaun, kampung lama. Mereka adalah keluarga; Niko Mese, Theresia Mandonsa, Thomas Mese, Maria Mandonsa (Leke Lopis), Petrus Silkono, Anton Olla, Kono Farnesi, Anton Pule, Boi Siki, Petrus Liu Mandonsa, Y.Baki Mandonsa, Musu Ninu, Siuk Sasi, keluarga Kono, Batis, Tun Nitcae. Beverapa tahun kemudian, menyusul keluarga bpk.Boes Ninu dan Mamuit Fallo.

Sekitar tahun 1980, terjadi mutasi penduduk, di mana penduduk kampung lama pindah ke jalan besar. Pada saat itu, beberapa keluarga dari Binen Mau, Oebnin, dan Tua Neon ikut pindah ke usapi baanfaun. Perlu di ketahui bahwa keluarga pah Kefe ( keluarga Romo Alo Kosat) telah tinggal di kebun baanfaun sekitar tahun 1965.

2. EKONOMI

Pada umumnya penduduk Usapi Baanfaun bekerja sebagai petani dan peternak.

Jagung adalah makanan faforit, di samping Ubi Ubian, dan sagu.

Sedangkan tanaman padi tidak bisa di harapkan karena selalu gagal panen.

Kelaparan sering melanda penduduk usapi baanfaun setiap tahun dan Sagu menjadi menu makan pilihan utama pada saat itu.

Sumber penghasilan tambahan yg lain adalah Tuak(sopi), tembakau serta ternak, sapi dan babi.

3. ALAT TRANSPORTASI

Kuda adalah sarana transportasi utama masyarakat baanfaun pada saat itu.

Hampir setiap rumpun keluarga memiliki 4 sampai 5 ekor kuda sbgai alat transportasi.

4. PENERANGAN

Sampai tahun 1975, lampu penerang di malam hari adalah obor kecil yg terbuat dari TALU dan bubuk biji kusambi atau damar yg telah halus di tumbuk. Sekitar tahun 1976 muncul minyak tanah dan lampu gas.

5. PENDIDIKAN

Penduduk Baanfaun Generasi pertama yg sempat mengenyam pendidikan SR (sekolah rakyat setingkat SD selama 3 tahun) antara lain; Niko Mese, Antoin Ninu, Boes Ninu, Boe Siki, Maniuk Mandonsa.

Sebenarnya masih ada beberapa orang yg sempat ikut SR, tapi tidak tamat. Sejak tahun 1970, 80 % anak baan faun, generasi ke dua penduduk baanfaun berpendidikan SD lulusan SD Manikin dan Haekto.

Orang pertama usapi Baan faun yg lulus Sarjana Strata dua adalah ALOISIUS KOSAT (romo Alo), menyusul Maksi Mese (strata satu), Frans Ninu (Sarjana Muda) kemudian Petrus Siki ( strata satu). Generasi ke 3, penduduk baanfaun sudah banyak yg berpendidikan Sarjana. Perlu di ketahui bahwa ada beberapa orang yg tamat SMP, diantaranya Bartho Mese ( SMP Oelolok sekitar 1973), Anton Mese (SMP Oelolok sekitar 1978), Alex Mandonsa tamat SMP sekitar tahun 1978.

6. ANAK RANTAU

Perantau atau anak rantau adalah bagian yg penting di bicarakan, karena saat ini hampir semua anak baanfaun MERANTAU baik di dalam maupun di luar negeri.

Perantau pertama dan yg paling lama adalah BARTOLOMEUS TEFA MESE

Setiap perantau memiliki kisahnya sendiri, tapi kiranya Bartho Mese adalah pendobrak bagi para perantau usapi baanfaun yg memiliki kisah rantau yg mengharukan.

Sekitar tahun 1973. dengan berbekal sepasang baju dan celana, satu helai BETE, berbekal jagung goreng, dan uang tiga ribu rupiah hasil menjual satu ekor sapi betina besar, ia nekat merantau ke kupang, ke surabaya kemudian ke Papua. Selama 21 tahun merantau hanya 3 kali ia memberi khabar pada keluarga sekedar memberitahukan keberadaannya.

Dialah pendobrak sekaligus perantau ulung, tokoh prrantau bagi para perantau asal Usapi Baan Faun.

Maka jika Tugan berkenan, suatu saat para peranrau yg tergabung dalam NEK MESE TAFEN PAH (NESTAPA) diharapkan memberikan penghargaan kepada

1. Aloisius Kosat sbg bapak Pendidikan anak anak Baanfaun.

2. Bartholomeus Tefa Mese sebagai bpk. Perantau ulung, pendobrak pintu bagi para perantau usapi Baanfaun.